Thoughts About Marriage

My long lost friend, Zulaikha Amalia Siregar, baru saja membuat post soal pernikahan. Dan seperti komentar yang kutinggalkan di post itu, aku juga ingin membicarakan soal pernikahan. Brilliant, isn't it?

Oke baiklah, aku mengakui bahwa aku sekarang sedang berada dalam tahap di mana aku akan memandangi foto Ji Chang Wook sambil menjerit "MAS NIKAHI AKU SAJA MAS, NIKAHI AKU!"

Don't blame me, he's cute as hell. How am I supposed to resist?

Tembak aku, Bang, tembak aku~

Kuberitahu saja, inilah the power of skripsi. Membuatmu lebih baik berhalusinasi daripada nangis memikirkan chat yang tidak kunjung dibalas dosen pembimbingmu padahal beliau sedang online.

Huft.

Aku salah satu dari sekian banyak cewek yang sudah mulai memikirkan pernikahan di usia 21 menjelang 22. Yep, tipikal. Maksudku, bukan yang memikirkan banget sampai harus banget menikah nanti sore. Pikiranku soal menikah masih standar-standar saja, like, aku ingin menikah kalau bisa sebelum umurku 27. Nggak apa, dong. Namanya juga pengen, kan.

Memang usia 27 itu kelihatannya masih lama. Kalau dihitung masih lima tahun lagi, bahkan umurku belum 22 sekarang. Tapi kalau dilihat ke belakang, rasanya lima tahun itu cepet banget nggak sih?

Kayak semalam, seorang temanku ada yang nonton konser, kemudian aku teringat bahwa aku pernah nonton konser grup musik itu waktu aku kelas satu SMA yang mana adalah tujuh tahun yang lalu.

Dan aku seperti, "Buset udah tujuh tahun aja. Perasaan baru kayak satu dua tahun."

Dalam tujuh tahun ke depan--yang sepertinya juga akan terasa kayak baru satu atau dua tahun--mungkin aku sudah punya anak yang baru belajar jalan. Daym, creepy.

Mungkin di antara kalian ada yang berpikir untuk apa buru-buru menikah, sampai ada target usia sekian. Apalagi sekarang zaman sudah maju, wanita nggak melulu tugasnya nikah, bereproduksi untuk menambah populasi manusia, terus ngurusin rumah, anak, dan suami. Wanita bisa bekerja sampai setua yang kami mau, bisa berkarya di bidang apa saja. Sekarang banyak wanita yang tidak menikah dan kebanyakan berduit.

Please, go ahead. Menurutku wanita yang seperti itu sangat-sangat-sangat keren, really. Tapi nggak semua orang bisa seperti itu. Seperti yang selalu dikatakan dosen pembimbingku (iya, yang nggak pernah balas chat-ku itu) bahwa banyak sekali faktor yang mempengaruhi sikap manusia. Faktor-faktor ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor dari dalam diri sendiri atau internal, dan faktor dari lingkungan atau eksternal.

Iya, benar, itu penelitianku.

Ekonomi, keluarga, pandangan hidup, siapa yang tahu alasan seseorang ingin atau tidak ingin menikah? Lagi, seperti kata profesor pembimbingku, tidak ada seorangpun yang pengalaman hidupnya sama persis denganmu.

Kalau aku pribadi, jelas pengalaman hidup sangat berperan. Hal lain yang membuat menikah terlihat menarik bagiku (mungkin bagi sebagian besar orang juga) adalah the idea of not being alone. Sebagai manusia, siapa sih yang ingin sendiri? Aku yang cenderung introverted ini pun juga punya batasan kesendirian (?). Ya pokoknya begitu. Meski aku suka sekali menghabiskan waktu di kamar sendirian, entah membaca, menulis, melukis, nonton film atau drama, mendengarkan musik, atau day dreaming, tapi tetap aku senang diajak nongkrong untuk sekadar mengobrol.

Memang, mungkin klise kalau ada yang mau menikah biar "makan nggak sendirian, tidur nggak sendirian, di rumah nggak sendirian" but loneliness can kill sometimes. Dan kalau ada argumen, "Nikah tuh susah, nggak cuma enak-enak doang". Yes, that's absolutely true. Tapi setidaknya, kamu tidak menghadapinya sendirian kan?

Menikah memang bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan dan cuma karena pengen doang. Aku berpikiran untuk menikah tiga, empat, atau lima tahun lagi itu juga bukan tanpa alasan. Kupikir di usia-usia segitu aku sudah mencapai hampir semua basic life goals-ku seperti lulus kuliah, kerja, dan bisa kasih sesuatu ke orang tua. Jadi, kalau ada yang membuatku yakin dan mengajakku nikah, kenapa enggak?

Bukannya the ultimate life goal-ku semata-mata menikah saja. Enggak juga. Aku sebenarnya masih ingin jadi novelis, membuat buku bergambar anak-anak, jadi komikus, punya toko merchandise dari gambar-gambarku, tapi kalau belum kesampaian sebelum nikah, bisa kulakukan setelah nikah. Nggak ada undang-undang yang melarang orang yang sudah menikah untuk berkarya kok.

Lah, kalau nanti sibuk kerja, ngurus rumah-anak-suami, gimana? Ya nggak apa-apa. Life goals bisa berubah, kok. Mana seru manusia hidup dengan life goals yang itu-itu saja. Siapa tahu nanti setelah menikah, aku dan suamiku berambisi punya resort di Maldives dan menghabiskan hari tua di sana.

Ya sudah, aku juga bukannya berusaha menggiring pikiran kalian untuk menikah, kok. Diriku juga belum punya calon mantap (?). Makanya, Bang, lamar sini.

#BANGSIAPA #BANGUNANBERSEJARAHPO

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trappsila, XI IPA 2

[Review] V-tec Artist Series Water Colours

Mas Bule