Skin Care

Totally not me

Setelah berapa dekade vakum nulis blog, begitu muncul judul post-nya langsung feminin gitu ya?

Sebenarnya, ada sejarahnya mengapa aku mendadak membuat post demikian ini. Kuy kita simak bersamaan. Siap-siap membaca cerita panjang ya.

Ya udah, nggak apa-apa sih kalau nggak mau baca juga. Wa juga ngga maksa.

Sebelumnya aku mau mengingatkan, wahai rekan-rekan sejawat, bahwa usia kita sudah 20++. Artinya apa? Artinya kita sebentar lagi disuruh nikah! YAY!

Ehm, maksud aku, ini memang sudah umur di mana wajar aja pakai segala make up dan merawat tubuh. Terutama wanita ya, bukannya aku jenis manusia yang melarang lelaki perawatan atau pakai make up. Sebahagia kalian saja lah. Daku mah apa.

Nah, di post sebelum ini juga aku sudah bilang bahwa lagi suka lihat-lihat tutorial make up. Awalnya penasaran, 'orang kalau pakai make up itu ngapain aja sih?'. Itu juga gara-gara teman-teman kuliahku sudah pada mulai rajin beli gincu dan ngomongin berbagai merk make up. Dan ternyata, I kinda like it. Pada dasarnya aku memang suka seni, sih. Tapi bukan berarti juga aku seketika muncul di kampus dengan bulu mata palsu lima inci dan alis yang digambar dengan tinta cina. Sampai sekarang, aku bahkan masih belum paham sebenarnya concealer itu benda apa :(

Meski kadang nonton video make up tutorial di YouTube, aku nggak lantas pengen cobain make up ini itu. Alasannya simpel, karena make up itu harganya mahal dan pasti nggak akan sering aku pakai. Nah, dari pada beli make up, aku lebih tertarik buat nyobain skin care.



Sebetulnya ada yang berpendapat bahwa skin care itu juga termasuk make up meski cuma pelembab. Tapi menurut pendapat Laranti (2017) ((buset udah kayak sitasi skripsi aja)) make up adalah segala sesuatu yang membuat wajah kita upgraded(???) instantly, semisal yang tadinya berkulit gelap jadi putih-putih melati alibaba, yang tadinya punya bibir hitam jadi merah-merah delima pinokio, dll yang hasilnya langsung kelihatan begitu aplikasi pertama. Sementara skin care itu hasilnya nggak instan. Namanya aja skin care, fungsinya ya merawat. Yha, aku wanita yang memegang prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati.

SEPERTI AKU YANG MENCEGAH DIRIKU JATUH CINTA PADAMU, NAMUN GAGAL.

Ngga deng. Itu karena memang kalau skin care pasti aku sering pakai, jadi nggak ngerasa mubazir saja belinya. Kalau make up kan, sudah dipakai nanti ending-nya juga bakal dihapus lagi.

SEPERTI AKU, YANG KAMU HAPUS DARI HATIMU.

Sakit kan. Maksudku sudah beli mahal, buatnya susah, eh ntar dihapus.

Sebenarnya aku adalah wanita yang dulunya sangat-sangat-sangat-sangat malas merawat diri. Padahal aku dianugerahi kulit yang meski nggak seputih cewek-cewek oriental (nasi goreng kali, oriental)--lebih ke putih kuning langsat jawa-jawa cakep gimana gitu (deskripsi apa sih ini Tuhan)--namun cukup diidamkan banyak orang.

Kuberitahu saja, dulu dari SMP dan SMA sampai awal-awal kuliah, aku nggak begitu peduli sama kulitku. Apalagi muka. Bodo amat deh pokoknya. Padahal kan umur-umur segitu hormonnya lagi nggak stabil tuh ya, jadi memang wajar kalau muncul masalah di wajah. Kalau di aku untungnya meski nggak rajin banget merawat wajah, tapi masalah mukaku nggak terlalu banyak. Paling cuma muka berminyak, jerawat batu, jerawat gede yang isinya kayak banana milkshake itu sekali-sekali, sama muka kusem aja. Itu pun nggak yang parah-parah banget sampai merata gitu seperti cintaku padamu, sebentar juga hilang lagi secara ajaib.

Padahal tuh ya, boro-boro pakai pelembab. Muka aja kubersihin pakai sabun Nuvo batangan doang, itu pun kalau ingat. Sudah gitu aku waktu SMA dan kuliah kan aku sering panas-panasan tuh, boro-boro deh pakai sunblock. Hand and body lotion pun sampai kadaluarsa di kamar. Aku pun nggak peduli bentukku kayak apa pas zaman itu. Mau mukaku item, mau oranye, mau jingga, mau nila, mau jerawatan, mau semulus pantat panci, udah deh bagiku yang penting hidup aja sudah syukur.

Iya, aku sih memang nggak begitu suka merawat diri, tapi yang sering protes adalah ibuku. Kalian harus merasakan betapa beratnya menjadi anak perawan malas perawatan yang memiliki ibu berkulit mulus-lus-lus kinclong dimana jerawat enggan nongol dan keriput pun ogah-ogahan. Wih, coba deh kalau kulitku sudah agak menghitam gitu, ibuku akan mengomel "Ih, item banget mukamu. Pasti kamu nggak bersihin muka, ya?". Atau kalau jerawatku lebih dari satu dan gede-gede, ibuku pasti bilang, "Muka cantik-cantik kok jerawatan! Nggak pernah dibersihin sih!"

Aih, itu bikin risih banget gila. Ibuku nggak pernah sebawel itu soal nilai atau IP-ku, tapi kalau sudah soal muka, aku nggak tahan. Ini dia sebab aku dulunya terpaksa pakai skin care. Ibuku sering beli susu pembersih dan toner gitu, terus aku pasti disuruh pakai. Karena aku malas, aku pakainya sekali-kali doang. Habis itu aku dimarahin kalau lagi keling atau jerawatan.

Terus, ibuku tuh juga biasanya pakai krim pagi dan krim malam dari skin clinic kayak Natasha, LBC, Larissa, sama Naava Green gitu. Ibuku pernah coba semuanya sih, emang ganti-ganti gitu tergantung lagi suka yang mana dan ada duit berapa. Ya suka-suka dia lah, tapi nggak pernah bermasalah karena ganti-ganti atau berhenti pakai krim dari klinik itu. Nah, aku juga disuruh ikut konsultasi ke dokter gitu. Tapi aku pakainya nggak teratur dan sekali beli doang habis itu udah, kemudian aku dimarahilah sama ibuku.

Heheheh.

Aku nggak ingat betul kapan pertama kali aku benar-benar nyobain skin care sendiri tanpa paksaan dari pihak berwajib. Kalau nggak salah waktu itu aku lagi pengen coba-coba sabun muka. Aku baru pertama kali itu beli sabun muka sendiri. Biasanya nebeng ibuku soalnya. Nah, waktu itu pilihanku jatuh ke Wardah nggak tahu yang apa. Pokoknya wanginya lembut dan enak gitu. Aku biasanya pilih karena wanginya aja sih, mbuh cocok atau enggak. Terus aku mulai nyobain krim pagi dan malamnya Wardah, itu juga disuruh ibuku. Tapi aku beli sendiri yang kecil, dan aku cukup rutin pakainya. Habis itu aku cobain BB cream-nya Wardah karena penasaran dan itu ada SPF-nya. Selama ini cocok-cocok aja sih, nggak ada gimana-gimana. Bedaknya sih, aku masih setia sama Johnson & Johnson. Aku emang suka banget pakai bedak bayi ._.

Nah, jiwa kefemininanku(?) makin tergugah ketika aku KKN. Sebab pada masa itu sembilan anak perawan dijejalkan dalam satu kamar kecil. Bertumpukanlah barang-barang kami di rak, mulai dari parfum, lipstik, pembersih, penyegar, bedak, body lotion, de-el-el. Dan setelah kulihat-lihat, ternyata aku yang paling.... simpel. Lipstikku cuma satu, yaitu Purbasari 81 yang aku beli karena itu jualannya tim KKN-ku buat cari dana. Untungnya sih warnanya cocok di aku, hehehe. Aku punya pensil alis sih, itu pun punya ibuku dan aku bawa-bawa doang tapi nggak pernah kupakai. Pembersih dan toner dari Viva yang juga jarang-jarang kupakai. Jadi kalau abis mandi, aku cuma pakai krim pagi sama BB cream dan bedak bayi, habis itu pake lipstik nudePas KKN itu karena termotivasi(?) sama rutinitas cewek-cewek lainnya, aku setiap hari ikutan cuci muka pakai sabun, olesin krim pagi, BB cream, krim malam, sama body lotion yang kebetulan punyaku ber-SPF lumayan gede.

Mungkin karena aku rajin cuci muka, pakai krim pagi-malam, pakai BB cream dan body lotion ber-SPF, di sana juga sering bergerak, banyak minum air putih, dan tiap hari makan makanan yang tergolong sehat, mukaku jadi bersiiiih banget. Serius, deh. Di setiap foto bisa glowing dan flawless (?) gitu mukaku. Beneran nggak perlu pakai beautify lagi. Selama dua bulan KKN itu, nggak pernah sekalipun aku jerawatan gede. Paling cuma bruntusan kecil-kecil di sekitar cuping hidung yang nggak terlalu kelihatan di kamera, dan pas aku balik ke Jogja dia sudah mengering dan menghilang sendiri. Dan mungkin karena di sana udaranya dingin (fyi aku KKN di Wonosobo), mukaku yang biasanya cenderung berminyak jadi nggak bermasalah gitu deh.

Sampai beberapa hari setelah pulang KKN, aku masih cakep-cakep aja. Waktu ke kampus teman-temanku sampai heran "Kamu KKN di mana sih, heh, kok tambah putih?".  Waktu itu aku masih mempertahankan krim-krim yang aku pakai. Tapi satu atau dua minggu kemudian, idih. Pertama sih cuma muncul jerawat satu di hidung gede banget. Lamaaa banget itu sembuhnya, soalnya jerawatnya dalem gitu. Udah hampir sembuh, muncul lagi di dagu. Udah hampir sembuh lagi, muncul di dahi. Udah hampir kering, terus muncul di pipi. Gitu terus.

Sumpah ya. Meski aku memang nggak bebas dari jerawat, seumur-umur nggak pernah ada sejarahnya aku jerawatan di pipi. Masalahnya minyak di mukaku pun cuma ada di T-zone. Tahu kan ya, dahi sampai dagu. Jerawatnya sih emang satu dua gitu silih berganti, tapi bekasnya itu lho :( Mana aku suka gemes kalau jerawatan. Jadi bisa ditebak lah ya dia makin meradang dan lama sembuhnya, hehehehe.

Terus sejak pulang KKN, seminggu sebelum haid aku pasti muncul jerawat. Padahal biasanya nggak pernah. Demi deh nggak tahu lagi kenapa. Itu sampai aku yang awalnya pakai BB-cream Wardah ganti ke Garnier gitu yang lebih cair (karena yang punya Wardah kentel banget). Terus aku yang awalnya nggak pernah beli oil film a.k.a kertas minyak wajah akhirnya beli. Aku sampai beli sabun muka dari Acnes yang buat menyamarkan noda hitam, beli gel dari Acnes yang spot care juga, beli Verile gel antijerawat. Sejak itu aku mulai rajin pakai susu pembersih dan toner terutama habis pulang kuliah. Tiap ada jerawat mau numbuh aku rawat bener-bener, kalau udah agak sakit gitu aku olesin Verile tiga kali sehari. Buat jerawat yang sudah pecah aku olesin Acnes spot care tiga kali sehari juga.

Hasilnya ya, lumayan. Dalam beberapa bulan bekas jerawatnya sudah memudar gitu, meski masih kelihatan kalau selfie. Wkwkwk apasih. 

Oh iya, pas lagi jerawatan gitu aku sempat facial di klinik perawatan kulit dan pakai krim pagi dan malamnya. Lumayan sih, jerawat kecil-kecilnya hilang (karena dipencet paksa waktu facial), tapi aku lumayan repot mengurus bekasnya. Lama-lama ilang juga, sih. Krim-krimnya sebenernya cocok-cocok aja sih menurutku. Soalnya aku juga sering bersihin muka juga kali ya. Meski udah jarang jerawatan agak banyak, tapi tetap saja muncul satu atau dua seminggu sebelum haid.

Tapi akhirnya aku memutuskan untuk tidak bergantung pada krim dari klinik itu. Sebab aku takut kecanduan.

SEPERTI AKU KECANDUAN CINTAMU.

Kalau menurutku sih waktu aku berhenti biasa-biasa saja, tapi kata ibuku mukaku jadi nggak bersih gitu, jadi disuruh pakai lagi. Nah, aku nggak mau. Jadi aku mencoba untung-untungan memakai pelembab Pond's yang Spotless White kalau nggak salah, demi hilangnya bintik hitam bekas jerawat terkutuk itu.

Hasilnya? Aku nggak tahu sih bekas jerawatku ini memudar karena Pond's Spotless White atau karena seiring berjalannya waktu. Tapi sejak pakai ini kuperhatikan jerawatku tidak sering nongol lagi. Setidaknya, tidak sampai gede sekali dan bisa pecah. Tidak tahu sih apakah itu juga karena aku ganti sabun muka pakai Pond's yang hitam itu (sebab sabun mukaku habis dan aku bokek, jadi aku nebeng punya nenekku).

Tapi beberapa minggu ini, jerawatku muncul lagi. Di hidung, di jidat, di dagu, di pipi kanan-kiri. Agak banyak juga. Selain itu aku lagi keling banget, muka sama tangan iteman muka masa :( Entah apakah ada hubungannya dengan skripsiku dan aku banyak kegiatan akhir-akhir ini.  Demi apa itu mengganggu, soalnya hari Minggu besok aku harus make up-an. Heheheheh.

Akhirnya, aku melakukan revolusi skin care. Soalnya sama yang kemarin kayak kurang gimana gitu, nggak puas. Iya, manusia kan selalu mencari kesempurnaan.

TERMASUK TERHADAP PASANGAN. Tapi memang, kesempurnaan hanyalah milik Allah.

Oh iya, aku nggak mengganti semuanya kok. Aku tetap pakai susu pembersih Viva yang Spirulina (karena wanginya enak luar biasa). Tetap pakai Toner Viva juga. Karena pembersih dan toner ini memang cuma buat bersihin dan selama ini cocok saja, ya sudahlah. Cuma aku ganti sabun muka pakai Acnes Creamy Wash, aku suka baunya seger gitu kayak ada lemonnya. Terus aku ganti pelembab pakai Wardah Perfect Bright Lightening juga, sebab ada SPF-nya dan aku terlalu bokek untuk beli sunblock muka secara terpisah. Aku mulai rutin pakai itu dari hari Minggu (sekarang hari Rabu), dan udah kelihatan bedanya. Senang deeeeh~

Sebenarnya, ada suatu rahasia lagi yang membuat mukaku nggak segosong tangan, lebih bersih, bersinar, dan jerawat dari yang gede banget plus perih, mengering dalam empat hari.

Tapi nanti ya, post ini sudah kepanjangan. Nanti skripsiku kalah :(

Komentar

  1. KAMU KEMBALI....!
    Tapi kenapa di saat kamu lagi sibuk-sibuknya nyekripsi?

    HAYO JUJUR, pasti nge blog jadi pelarian biar nggak garap skripsi kaaaan? Ya kan ya kan ya kaaan? :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trappsila, XI IPA 2

[Review] V-tec Artist Series Water Colours

Mas Bule